DX
Lensa dengan kode huruf DX berarti lensa tersebut khusus didisain untuk kamera Nikon non-full frame (DX-format) seperti D3100, D5100, D5200, atau D300s. Lensa DX juga bisa dipakai dikamera Nikon full frame (FX-format) seperti D4, D600, atau D800, hanya saja resolusi foto yang dihasilkan akan berbeda.
AF
AF adalah singkatan dari Auto Focus, artinya adalah pencarian fokus bisa dilakukan secara otomatis melalui kamera. Secara sederhana Auto Focus adalah kebalikan dari Manual Focus.
AF-D – Auto Focus with Distance Information
Sama seperti lensa AF (Auto Focus), hanya saja dilengkapi dengan fitur informasi jarak kamera dan subyek foto. Tentunya informasi yang diberikan oleh lensa ini dikirim pada saat subyek foto sudah dalam keadaan fokus. Informasi jarak tersebut diolah oleh kamera untuk menentukan metering.
AF-S – Auto Focus Dengan Silent Wave Motor
Lensa AF-S memiliki motor didalamnya sehingga Auto Focus bisa bekerja dengan semua jenis kamera DSLR Nikon, baik memiliki motor sendiri maupun yang tidak memiliki motor sendiri.
IF – Internal Focusing
Lensa menggerakkan elemen-elemen internal untuk pencarian fokus. Jadi lensa ini tidak seperti kebanyakan lensa lain yang menggerakkan elemen depan lensa untuk pencarian fokusnya. Panjang lensa menjadi tetap karena barel depan tidak bergerak / berputar. Keunggulan lain fitur IF ini adalah mampu mencari fokus lebih cepat dibandingkan lensa non IF selain itu cocok jika kita menggunakan filter CPL atau ND.
RF – Rear Focusing
Lensa menggerakkan elemen-elemen belakang lensa untuk pencarian fokusnya.
SWM – Silent Wave Motor
Lensa dengan nama ini memiliki fitur penggantian mode pencarian fokus dari auto focus ke manual focus secara cepat hanya dengan memutar focusing ring, jadi berbeda dengan lensa AF-D yang menggunakan switch.
G
Jika kita melihat huruf G dibelakang angka bukaan diafragma lensa / aperture lensa, berarti lensa tersebut tidak memiliki ring pengatur bukaan diafragma lensa / aperture. Bukaan diafragma dikontrol melalui bodi kamera. Hampir semua lensa Nikon saat ini bertipe G.
ED – Extra Low Dispersion
Lensa ini menggunakan lensa ED yang meminimalkan efek chromatic aberration, efek yang disebabkan perpendaran cahaya yang melewati lensa karena perbedaan panjang gelombang cahaya..
DC – Defocus Control
Lensa dengan fitur ini memungkinkan kita untuk mengubah karakteristik distorsi lensa sehingga “tampilan” dari out-of-focus / bokeh suatu unsur di latar depan atau latar belakang dapat diubah untuk menghasilkan foto lebih menyenangkan terutama fotoportrait / potret.
VR – Vibration Reduction
Fitur untuk mereduksi getaran tangan. Fitur ini sama dengan fitur IS pada Canon. Jadi sangat berguna ketika kita memotret pada kecepatan rana / shutter speed rendah. Lensa berfitur VR dilengkapi dengan sensor gerakan yang mendeteksi pergerakan / getaran tangan dan kemudian mengkompensasinya sehingga bisa meminimalisir blur.
Micro
Nikon menggunakan kata Micro pada lensa makronya. Jadi artinya sama dengan macro / makro. Lensa untuk keperluan khusus fotografi makro.
N – Nano Crystal Coat
Nano Crystal Coat adalah lapisan lensa yang lebih mampu mengurangi pantulan cahaya yang datang tegak lurus terhadap lensa dibandingkan dengan lapisan / coating anti-refleksi konvensional. Lensa dengan lapisan Nano Crystal Coat mengurangi ghosting dan flare yang disebabkan oleh cahaya yang datang dengan sudut miring yang sulit dihilangkan oleh pelapis /coating konvensional
PC-E – Perspective Control with Electronic Diapragm
Lensa ini mempunyai fitur tilt-shift sehingga lensa bisa digeser atau dibengkokkan. Biasanya digunakan untuk keperluan fotografi arsitektur.
SIC – Super Integrated Coating
Lensa yang dilengkapi dengan Super Integrated Coating, fitur yang mampu menghasilkan warna yang lebih bagus dan mampu meminimalkan ghosting dan flare.
Contoh cara membaca kode pada lensa Nikon
1. Nikon AF-S 17-55mm f/2.8 G IF-ED DX
17-55mm – Zoom Lens dengan panjang focal lensa 17mms/d55mm.
AF-S – AutoFocus dan mempunyai motor sendiri, dapat digunakan untuk kamera yang ada motor fokus maupun yang tidak ada.
f/2.8 – Diafragma konstan pada f/2.8.
G – Tipe G, tidak memiliki ring aperture.
IF – Elemen fokus berada di dalam lensa.
ED – Menggunakan lensa ED untuk meminimalkan efek chromatic aberration.
DX – Lensa khusus didisain untuk kamera Nikon non-full frame (DX-format).
2. Nikon AF-S 85mm f/3.5 IF ED VR II DX Micro
AF-S – AutoFocus dan mempunyai motor sendiri, dapat digunakan untuk kamera yang ada motor fokus maupun yang tidak ada.
85mm – Prime Lens dengan panjang fokal lensa 85mm.
f/3.5 – Diafragma konstan pada f/3.5.
IF – Elemen fokus berada di dalam lensa.
ED – Menggunakan lensa ED untuk meminimalkan efek chromatic aberration.
VR – Dilengkapi dengan sensor gerakan yang mendeteksi pergerakan / getaran tangan.
DX – Lensa khusus didisain untuk kamera Nikon non-full frame (DX-format).
Micro – Lensa khusus untuk keperluan fotografi makro.
3. Nikon AF-S 70-300mm f/4.5-5.6 G IF ED VR
AF-S – AutoFocus dan mempunyai motor sendiri, dapat digunakan untuk kamera yang ada motor fokus maupun yang tidak ada.
70-300mm – Zoom Lens dengan panjang fokal lensa 70mm s/d 300mm.
f/4.5-5.6 – Diafragma variabel. Pada posisi 70mm, f/4.5 sedangkan pada posisi 300mm, f/5.6.
G – Tipe G, tidak memiliki ring aperture.
IF – Elemen fokus berada di dalam lensa.
ED – Menggunakan lensa ED untuk meminimalkan efek chromatic aberration.
VR – Dilengkapi dengan sensor gerakan yang mendeteksi pergerakan / getaran tangan.
*)Sumber: http://www.springtheworld.com
**)Editor: Muhammad Hafiizh (afii photography)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar